Tuesday, November 17, 2015

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Macam-Macam Sujud (Syukur, Sahwi, dan Tilawah). Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Macam-Macam Sujud (Syukur, Sahwi, dan Tilawah)

Setelah mempelajari artikel ini, kalian akan mampu menjelaskan pengertian dan tata cara melakukan berbagai macam sujud dengan benar.

Ada beberapa macam sujud, yaitu sujud sahwi, sujud tilawah, sujud syukur, dan sebagainya. Pernahkah kalian melaksanakan ketiga sujud tersebut? Dalam bab ini akan dibahas macam-macam sujud.

A. Sujud Syukur

Sujud syukur artinya sujud terima kasih karena mendapat nikmat (keuntungan) atau karena terhindar dari bahaya kesusahan yang besar. Sujud syukur hukumnya sunah. Sabda Rasulullah saw:
hukum Sujud Syukur

Artinya: “Dari Abu Bakrah: “Sesungguhnya apabila datang kepada Nabi saw sesuatu yang menggembirakan atau kabar suka, Beliau terus sujud berterima kasih kepada Allah.” (H.R. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

B. Sujud Sahwi

Sujud sahwi adalah sujud dua kali sesudah tasyahud akhir sebelum salam. Sebab-sebab dilakukan sujud sahwi adalah antara lain sebagai berikut.

a. Ketinggalan tasyahud pertama

Sabda Rasulullah saw.:
Sujud Sahwi

Artinya: “Dari Al Mugirah, telah berkata Rasulullah saw: “Apabila salah seorang dari kamu berdiri sesudah dua rakaat tetapi ia belum sampai sempurna berdiri, maka hendaklah ia duduk kembali (untuk tasyahud pertama), dan jika ia sudah berdiri betul maka ia jangan duduk kembali, dan hendaklah ia sujud dua kali (sujud sahwi). (H.R. Ahmad)

b. Kelebihan rakaat, ruku’ atau sujudnya sebab lupa.
Macam-Macam Sujud (Syukur, Sahwi, dan Tilawah)

Artinya: “Dari Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya Nabi saw telah salat zuhur lima rakaat, maka orang bertanya kepada Beliau. Jawab Beliau, tidak. Mereka yang melihat Beliau salat berkata: Engkau telah salat lima rakaat. Mendengar keterangan mereka yang demikian, maka Beliau terus sujud dua kali.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

c. Karena syak (ragu-ragu) tentang jumlah rakaat yang telah dikerjakan

Sebagian ulama berpendapat bahwa sujud sahwi itu tempatnya sesudah memberi salam, bukan sebelumnya. Hukum . sujud sahwi adalah untuk imam dan orang yang salat sunnah yang penting sendiri (munfarid). Adapun makmum wajib mengikuti imamnya. Kalau imam sujud, makmum pun wajib untuk sujud. Apabila imam tidak sujud, maka makmum pun tidak boleh sujud sendiri.

Bacaan sujud sahwi adalah sebagai berikut.
Artinya: “Maha suci Allah yang tidak pernah tidur dan lupa.

C. Sujud Tilawah

1. Pengertian Sujud tilawah 
Sujud tilawah artinya sujud bacaan. Yang dimaksud sujud tilawah yaitu disunahkan sujud bagi orang yang membaca ayat- ayat sajdah, begitu juga bagi mereka yang mendengarnya. Sabda Rasulullah saw.:
Pengertian Sujud tilawah
Artinya: “Dari Ibnu Umar: “Sesungguhnya Nabi Muhammad saw pernah membaca Al Qur’an di depan kami. Ketika Beliau melalui (membaca) ayat sajdah Beliau takbir, lalu sujud, kami pun sujud pula bersama-sama Beliau.” (H.R. at-Tirmidzi).


Ayat-ayat sajadah yang dimaksud antara lain :
(https://id.wikipedia.org/wiki/Ayat_Sajdah)

  1. Ayat ke-206 dari Surah Al-A'raf
  2. Ayat ke-15 dari Surah Ar-Ra'd
  3. Ayat ke-50 dari Surah An-Nahl
  4. Ayat ke-109 dari Surah Al-Isra'
  5. Ayat ke-58 dari Surah Maryam
  6. Ayat ke-18 dari Surah Al-Hajj
  7. Ayat ke-77 dari Surah Al-Hajj, termasuk ayat sajdah menurut Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hambali
  8. Ayat ke-60 dari Surah Al-Furqan
  9. Ayat ke-25 hingga Ayat ke-26 dari Surah An-Naml
  10. Ayat ke-15 dari Surah As-Sajdah
  11. Ayat ke-38 dari Surah Fussilat
  12. Ayat ke-62 dari Surah An-Najm
  13. Ayat ke-21 dari Surah Al-Insyiqaq
  14. Ayat ke-19 dari Surah Al-'Alaq Ayat ke-19 dari surat Al-‘Alaq 96:19
  15. Ayat ke-24 dari Surah Sad, tidak termasuk ayat sajdah menurut mazhab syafi'i dan mazhab Hambali, melainkan ayat yang disunnahkan untuk sujud syukur bila dibacakan.



2. Bacaan Sujud Tilawah

Bacaan sujud tilawah adalah sebagai berikut.
Bacaan Sujud Tilawah
Artinya: “Aku sujud kepada Tuhan yang menjadikan diriku, Tuhan yang membuktikan pendengaran dan penglihatan dengan kekuasaan-Nya.” (H.R. at-Tirmidzi)

3. Rukun Sujud Tilawah

Rukun sujud tilawah di luar salat adalah:
a. niat,
b. takbiratul ihram,
c. sujud, dan
d. memberi salam sesudah sujud.

4. Syarat-Syarat Sujud Tilawah

Syarat-syarat sujud tilawah sama seperti syarat-syarat salat, seperti suci dari hadas dan najis, menghadap ke kiblat, dan menutup aurat.

D. Tata Cara Sujud Syukur, Sujud Sahwi dan Sujud Tilawah

1. Sujud Syukur

Tata cara sujud syukur sebagai berikut:
a. Mendapat kebahagiaan atau terhindari dari musibah.
b. Takbir
c. Melakukan sujud
d. Takbir
e. Tidak harus bersuci

2. Sujud Sahwi

Tata cara sujud sahwi sebagai berikut:
a. Lupa atau ragu dalam salat wajib
b. Takbir
c. Sujud dua kali setelah membaca atahiyat akhir sebelum salam
d. Takbir
e. Dilakukan masih kondisi suci

3. Sujud Tilawah

Tata cara sujud tilawah sebagai berikut:
a. Ketika membaca ayat sajdah
b. Takbir
c. Melakukan sujud
d. Takbir
e. Dilakukan tetap suci

E. Mempraktikkan Sujud Syukur, Sujud Sahwi, dan Sujud Tilawah

1. Sujud Syukur

Praktik sujud syukur adalah:
a. Berniat
b. Membaca Takbir
c. Melakukan sujud
Sujud sebagai ungkapan syukur kepada Allah swt.
d. Membaca takbir

2. Sujud Sahwi

Praktik sujud sahwi adalah:
a. Berniat
b. Membaca Takbir
c. Melakukan sujud dua kali


3. Sujud Tilawah

Praktik sujud tilawah adalah:
a. Berniat
b. Takbir
c. Melakukan sujud
d. Takbir

Sumber : Pendidikan Agama Islam SMP Kelas VIII, Loso, Samroni, Mulyadi



Sunday, November 1, 2015

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Faktor Penyebab Runtuhnya Bani Umayyah . Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Faktor Penyebab Runtuhnya Bani Umayyah

Meskipun keberhasilan banyak dicapai dinasti Bani/Daulah Umayyah  ini, namun tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Muawiyah tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan ibn Ali saat dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian pemimpin setelah Muawiyah diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang berakibat terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.

Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid lalu mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husein ibn Ali dan Abdulah ibn Zubair. Bersamaan dengan itu, Syi'ah (pengikut Ali) melaksanakan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali.

Perlawanan orang-orang Syi'ah tidak padam dengan terbunuhnya Husein. Gerakan mereka bahkan menjadi lebih keras dan tersebar luas. Yang terterkanal diantaranya adalah pemberontakan Mukhtar di Kufah pada tahun 685-687 M. Mukhtar memperoleh banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali.. Mukhtar terbunuh dalam peperangan melawan gerakan oposisi lainnya, yaitu gerakan Abdullah ibn Zubair.

Faktor Penyebab Runtuhnya Daulah Umayyah Abdullah ibn Zubair membina gerakan oposisinya di Makkah setelah ia menolak sumpah setia pada Yazid. Akan tetapi, ia baru menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husein ibn Ali terbunuh. Untuk mendapat dukungan Dia menyanjung-nyanjung Husein dan menjelek-jelekkan bani Umayyah.  Gerakan Abdullah ibn Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abd al-Malik.

Hubungan pemerintah dengan gerakan oposisi membaik pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Sepeninggal Beliau, kekuasaan Bani Umayyah berada di bawah khalifah Yazid ibn Abd al-Malik (720- 724 M). Penguasa yang satu ini terlalu gandrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, pada zamannya berubah menjadi kacau.

Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan Khalifah selanjutnya, Hisyam ibn Abd al-Malik (724-743 M). Bahkan di zaman Hisyam ini muncul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat untuk pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali dan adalah ancaman yang sangat serius. Dalam perkembangan selanjutnya kekuatan baru ini, mampu menggulingkan dinasti Umawiyah dan menggantikannya dengan dinasti baru, Bani Abbas. Sebenarnya Hisyam ibn Abd al-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, sebab gerakan oposisi terlalu kuat khalifah tidak berdaya mematahkannya.

Sepeninggal Hisyam ibn Abd al-Malik, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat golongan oposisi. Akhirnya, pada tahun 750 M, Daulat Umayyah digulingkan Bani Abbas yang bersekutu dengan Abu Muslim al-Khurasani. Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, melarikan diri ke Mesir, ditangkap dan dibunuh di sana.
Faktor Penyebab Runtuhnya khalifah Umayyah

Kebesaran yang sudah diraih oleh Bani Umayyah selama kurang lebih 90 tahun ternyata tidak mampu menahan kehancurannya akibat kelemahan-kelemahan internal dan semakin kuatnya tekanan dari fihak luar. Adapun faktor-faktor yang membawa kehancuran Bani Umayyah dapat diidentifikasikan seperti berikut ini.

Penyebab Runtuhnya Bani Umayyah


  1. Ketidakcakapan para penguasa serta kejahatan perilaku mereka adalah faktor utama hancurnya kekuasaan dinasti ini. Hampir semua penguasanya lemah kecuali 5 khalifah besar bani Umayyah. Khalifah-kahalifah setelah Hisyam adalah penguasa yang tidak cakap dan bermoral jahat. Kesenangan mereka hanya berburu, meneguk anggur serta asyik mendengarkan musik dan tarian dari harem-harem istana. Para penguasa lupa mengurusi pemerintahan dan nasib rakyat, mereka malah membebani rakyatnya dengan pajak tinggi.
  2. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru untuk tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
  3. Pertentangan keras antara suku-suku Arab yang sejak lama terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok Mudariyah (Arab Utara) yang menempati Irak dan kelompok Himyariah (Arab Selatan) yang berdiam di wilayah Suriah. Di Zaman Umayyah, persaingan antaretnis itu mencapai puncaknya sebab para khalifah cenderung kepada satu fihak dan menafikan yang lainnya.
  4. Egoisme para pejabat pemerintahan dan terjadinya pembelotan militer. Pada biasanya para penguasa mempercayakan urusan pemerintahan kepada para pejabat istana. Pejabat istana menjalankan amanah itu untuk memuaskan ambisi dan tujuan-tujuan pribadi. Mekanisme pemerintahan itu tidak memuaskan semua pihak sehingga menimbulkan gerakan yang mengguncang stabilitas kerajaan. Hal ini dibuktikan dengan bergabungnya tentara kerajaan dengan pihak musuh.
  5. Perlakuan yang tidak Adil pada non-Arab (Mawali). Muslim non-Arab merasa tidak senang dengan tindakan penguasa Umayyah yang selalu membedakan mereka dengan Muslim Arab baik dari segi sosial politik atau ekonomi. Akibatnya muslim non-Arab sering melaksanakan pemberontakan dan terakhir mereka bergabung dengan gerakan Abbasiyah.
  6. Ketidakpuasan sejumlah pemeluk Islam non Arab. Mereka adalah pendatang baru dari kalangan bangsa-bangsa taklukkan yang mendapatkan sebutan mawali. Status itu menggambarkan infeoritas di tengah-tengah keangkuhan orang-orang Arab yang mendapatkan sarana dari penguasa Umayyah. Padahal mereka bersama-sama Muslim Arab mengalami beratnya peperangan dan bahkan beberapa orang di antara mereka mencapai tingkatan yang jauh di atas rata-rata bangsa Arab. Tetapi harapan mereka untuk mendapatkan kedudukan dan hak-hak bernegara tidak dikabulkan. Seperti tunjangan tahunan yang diberikan kepada mawali itu jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan tunjangan yang dibayarkan kepada orang Arab.
  7. Propaganda dan gerakan Syi’ah. Mereka adalah pendukung Ali yang berkembangan menjadi suatu aliran setelah tragedi Karbala. Sejak semula kelompok ini tidak mengakui pemerintahan Umayyah dan menganggap para penguasanya sebagai perampas kekuasaan. Mereka tidak pernah memaafkan kejahatan pembunuhan Ali, Hasan dan Husen. Misi dan propaganda mereka untuk membela keturunan Nabi Muhammad secara efektif berhasil menarik simpati kelompok yang tertindas.
  8. Kerajaan Islam pada zaman kekuasaan Bani Umayyah sudah demikian luas wilayahnya, sehingga sukar mengendalikan dan mengurus administrasi dengan baik, tambah lagi dengan sedikitnya jumlah penguasa yang berwibawa untuk dapat menguasai sepenuhnya wilayah yang luas itu.
  9. Latar belakang terbentuknya kedaulatan Bani Umayyah tidak dapat dilepaskan dari konflik-konflik politik. Kaum Syi’ah dan Khawarij terus berkembang menjadi gerakan oposisi yang kuat dan sewaktu-waktu dapat mengancam keutuhan kekuasaan Umayyah.
  10. Adanya pola hidup mewah di lingkungan istana menyebabkan anak-anak Khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di samping itu, golongan agama banyak yang kecewa sebab perhatian penguasa pada perkembangan agama sangat kurang.
  11. Penindasan terus menerus pada pengikut-pengikut Ali pada khususnya, dan pada Bani Hasyim (Hasyimiyah) pada umumnya, sehingga mereka menjadi oposisi yang kuat. Kekuatan baru ini, dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abdul al- Muthalib dan memperoleh dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Hal ini menjadi penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Dinasti Bani Umayyah.
  12. Propaganda dan gerakan Abbasiah. Propaganda kelompok Abbasiyah secara gencar menyerang segi-segi negatif dan kelemahan-kelemahan sepanjang pemerintahan dinasti Umayyah. Setelah propaganda mereka berhasil memobilisasi bermacam-macam kelompok masyarakat termasuk tiga kelompok terbesar yaitu Abbasiyah, Syi’ah dan Mawali yang dipimpin oleh Abu Abbas, mereka berkoalisi mengadakan penyerbuan dan berakhir dengan runtuhnya Daulah Umayyah di bawah pemerintahan khalifah terakhir Marwan Ibn Muhammad.


Sumber : youchenkymayeli.blogspot.com



اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Halloween dalam Agama Islam. Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Halloween dalam Agama Islam


Apa itu Halloween? Bagaimana Halloween menurut Agama Islam ? apakah orang muslim boleh ikut merayakannya? Berikut sedikit gambaran mengenai Halloween Day. Semoga memiliki manfaat dan dapat dijadikan referensi bagi kita.

Setiap menjelang akhir bulan Oktober, keluarga di Amerika dan negara Barat lainnya sibuk mepersiapkan busana atau pun kostum. Segala persiapan itu dilakukan untuk menyambut Halloween Day. Kostum, mereka kenakan pada saat perayaan Halloween Day, yaitu pada malam tanggal 31 oktober.

Perayaan Holloween  atau bisa disebut Halloween Day yang berasal dari barat sekarang ini juga sudah dirayakan oleh keluarga-keluarga di Indonesia. Walapun masih tebatas pada keluarga-keluarga selebritis dan juga keluarga ekspatriat yang tinggal di kota-kota besar. Seperti juga perayaan Valentine Day, sekarang ini perayaan Halloween menjadi komonitas hiburan yang sangat menggiurkan, kapan pastinya perayaan ini masuk ke Indonesia tidak ada yang tahu.

Bermula dari tradisi pagan masyarakat Celtik, dulu mendiami Irlandia, Skotlandia dan daerah sekitarnya, yang percaya bahwa hari terakhir bulan Oktober para arwah orang yang sudah mati akan gentayangan di Bumi. Tradisi Bangsa Celtik ini, sebenarnya bukan asli dari bangsa Celtik melaikan hasil adopsi dari bangsa Romawi yang pernah menjajah bagsa Celtik di abad pertama masehi.

Kebiasaan merayakan Holoween dibawa ke Amerika oleh para imigran Irlandia yang mengalami musibah kelaparan pada tahun 1840-an. Tradisi trick-or-treat dipercaya barasal dari budaya bangsa Eropa abad ke sembilan. Mereka merayakan hari roh tiap tanggal 2 November dengan cara berjalan dari desa ke desa untuk mengumpulkan kue roh yang berupa roti dengan kismis. Semakin banyak kue yang mereka dapat akan semakin banyak juga do’a yang terkirim untuk  keluarga yang sudah meninggal dari si pemberi kue.

Belum ada notulen mengapa perayaan kepercayaan paganisme (penyembah berhala) masuk ke dalam linkungan gereja dan diadopsi oleh gereja katolik. Sampai dengan abad ke-8 M, dalam daftar hari raya gereja katolik, tidak ada sama sekali perayaan untuk mengenang dan menghormati para santo (orang suci).

Sebab itu, pada abad ke-8 Masehi itu, gereja Katolik akhirnya menentukan pada tanggal 1 November sebagai hari raya untuk menghormati para santo dan santa (All Saints Day). maka mulailah tradisi bahwa misa yang diadakan pada hari itu disebut Alhallowmans, yang berarti mia kaum suci (dalam bahasa Inggris disebut Hallow).

Malam sebelumnya disebut All Hallows Eve, malam penyucian. Inilah cikal bakal Halloween dalam sejarah gereja. Memasuki abad ke 18, banyak warga asal eropa yang hijrah ke Amerika, kebudayaan ini terus mereka pertahankan dan berubah menjadi perayaan yang terus berkembang sampai sekarang.
Bagi anak-anak yang tidak mengerti apa-apa, Holloween berarti kesempatan untuk memakai kostum dan mendapatkan permen. Bagi orang dewasa mungkin adalah kesempatan untuk berpesta kostum. Bagi toko-toko ini adalah ajang bisnis yang bagus untuk pemasaran atau promosi. singkat kata sungguh tidak berbatas perayaan Holloween dari sekedar hura-hura hingga kalkulasi matematis bisnis dengan segala keuntungan yang bisa diraih.

Termasuk dalam Golongan Jahiliyah orang Islam yang ikut-ikutan, latah merayakan hari Valentine, Natal, Tahun baru, April Mop dan lain sebagainya dengan alasan apapun entah “just for fun” hingga yang berkata demi toleransi dan plularisme-semua adalah kelompok jahiliyah, tidak memandang yang bersikap itu seorang kiai ataupun politisi.

ari Abi Sa’id radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Kalian benar-benar akan meniru sunnah (jalan/tata cara) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai-sampai sekiranya mereka memasuki lubang biawak kalian pun juga turut mengikutinya.” Kami (para sahabat) bertanya : ”Apakah Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab : ”siapa lagi?” (HR Bukhari, Bab Ma Dzakaro ’an Bani Isra’il 11/272)

Sungguh, apa yang sudah disampaikan Nabi yang mulia ini benar-benar sudah terjadi di zaman ini, segala apa yang dilakukan kaum kuffar terutama Yahudi dan Nasrani, dengan begitu mudahnya diikuti oleh kaum muslimin. Tatkala kaum kuffar merayakan natal (peringatan kelahiran) ’tuhan’ atau orang suci mereka, maka kaum muslimin pun turut merayakan hal yang sama, meskipun kata natal diubah menjadi bahasa Arab, maulid. Ketika kaum kuffar merayakan birthday (peringatan ulang tahun), maka kaum muslimin berbondong-bondong turut merayakan hal yang sama. Ketika kaum kuffar terbakar euforia perayaan tahun baru masehi, maka kaum muslimin tidak mau kalah, mereka juga turut merayakan tahun baru masehi sekaligus tahun baru hijriah. Belum lagi perayaan-perayaan jahiliyah lainnya, seperti valentine, april mop, mother’s day, dan lain lain.

Menjelang akhir bulan Oktober ini, masyarakat Barat Eropa tampak sibuk memakai kostum aneh dan freak, mereka berkostum dengan pakaian menakutkan ala setan-setan ala imajinasi dan mitos mereka. Buah labu pun dipotong dan diukir dengan wajah mengerikan lalu diberi lilin atau lampu di dalamnya, dan dipajang di rumah-rumah [i.e Jack-O-Lantern]. Anak-anak berkeliaran dengan kostum anehnya pada malam hari, berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya sembari berteriak ”Trick or Treat!”, untuk mendapatkan permen dan gula-gula. Rumah-rumah, halaman, lapangan, mall-mall, plaza, tempat perbelanjaan dan tempat umum lainnya, sibuk menyambut perayaan aneh ini dengan dekorasi-dekorasi aneh. Ya, perayaan ini adalah perayaan Halloween.
Halloween menurut Islam

Ironinya, hal ini turut menyebar pula di kalangan kaum muslimin. Para pemuda Islam turut meramaikan syiar kaum kuffar yang jahiliyah ini, hanya untuk dikatakan tidak ketinggalan zaman ataupun takut disebut remaja ”jadul” tidak gaul. Menurut mereka, ini hanyalah perayaan belaka, tidak ada sangkut pautnya dengan agama dan keyakinan… Namun, benarkah klaim mereka ini?!! Padahal, apabila mereka mau berfikir kritis dan tidak bersikap latah alias membebek begitu saja dengan budaya atau pemikiran asing, niscaya mereka dapat melihat dengan jelas bahwa Halloween ini bukanlah perayaan biasa tanpa ada tendensi keyakinan apa-apa. Karena, segala bentuk perayaan dan peringatan, pastilah berangkat dari tendensi suatu keyakinan atau ideologi tertentu.

Halloween sendiri menurut akar kata, berasal dari bahasa Inggris ”Hallow” yang maknanya keramat atau suci. Upacara Haloween ini, sebenarnya berasal beberapa abad sebelum Kristiani. Kaum paganis bangsa Inggris dan Irlandia kuno, meyakini bahwa pada malam 31 Oktober, Tuhan memainkan tipu muslihat pada para penyembahnya yang tidak abadi (mortal), dengan membawa bahaya, ketakutan dan supernatural. Mereka juga meyakini bahwa, ruh (souls) orang-orang yang sudah meninggal dibiarkan berkeliaran bebas dan bisa mengunjungi kembali rumah-rumah mereka, serta serombongan besar arwah jahat bergentayangan menejelajahi bumi.

Intinya, mereka (kaum paganis Inggris dan Irlandia Kuno) meyakini bahwa malam 31 Oktober adalah malam yang mencekam dan mengerikan, yang dipenuhi oleh arwah bergentayangan, hantu, penyihir, hobgoblin (hantu yang berpostur pendek), black cats (kucing hitam, sebagai simbol penyihir), para peri jahat dan iblis. Untuk menangkal kejahatan malam itu dan mencegah kemarahan para dewa (’tuhan’), mereka mengorbankan dan memberikan ’sesajen’ serta menyalakan api unggun yang besar di puncak bukit untuk menakuti dan menjauhkan arwah jahat.

Setelah kaum paganis Romawi menaklukkan Inggris, mereka menambahkan beberapa mitos pada tanggal 31 Oktober ini berupa festival panen buah-buahan, dalam rangka menghormati dan memuliakan Pomona, dewi buah-buahan. Beberapa tahun kemudian, gereja Kristian Barat pertama, merayakan peringatan hari ”All-Saints” atau ”All-Hallows” pada siang hari 31 Oktober, dan pada malamnya mereka merayakan ”Hallows-Eve” (Malam Suci/Keramat) atau ”Halloween”. Mereka tetap mengadopsi beberapa warisan pagan (berhalais) dengan tetap meyakini bahwa pada malam itu, orang-orang mati berjalan diantara mereka dan para penyihir serta warlock terbang berseliweran di tengah-tengah mereka, dan api unggun tetap dinyalakan untuk menjauhkan para arwah jahat dari mereka.

Secara perlahan-lahan, Halloween pun berubah menjadi bagian peribadatan dan kebiasaan keluarga. Pada abad ke-19, ritual kebiasaan ini mulai berkembang, dan seloroh mengenai penyihir pun dirubah dan diganti dengan tricks (permainan) dan games yang dimainkan oleh anak-anak dan remaja. Halloween masih tetap menyimpan akar paganis berhalais, rumah dan halaman masih dipenuhi oleh dekorasi gambar-gambar menyeramkan dan menakutkan pada malam Halloween. Anak-anak memberi warna wajah mereka dan memakai kostum aneh, lalu berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain, sembari berteriak ”TRICK-OR-TREAT!!!”. Ritual menyediakan ’sesajen’ makan dan minum untuk para arwah digantikan dengan memberikan permen dan gula-gula kepada anak-anak berkostum, dan api unggun untuk mengusir roh jahat dirubah dengan ”Jack-O-Lantern”, yaitu sebuah labu yang tengahnya berlubang dan diukir dengan wajah menyeramkan serta diberi lilin di dalamnya.

Secara prinsip, Halloween sebenarnya berangkat dari ritual kuno yang melibatkan keyakinan pada arwah orang mati dan penyembahan kepada setan. Halloween, menurut mereka adalah hari keramat, dimana pada saat itu setan, iblis, penyihir dan segala bentuk makhluk supranatural berkeliaran bebas. Sehingga untuk mengusir arwah ini, diperlukan ritual-ritual khusus. Hal ini tentu saja di dalam Islam adalah terlarang dan haram hukumnya.

Ingatlah, Allah Ta’ala berfirman :
مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ
Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu.” (QS al-Baqoroh : 105)

Allah swt juga berfirman :
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS al-Baqarah : 109)

Maka kaum muslimin, tetaplah anda di dalam syariat Allah yang lurus ini dan janganlah berpaling.

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آَثِمًا أَوْ كَفُورًا
Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.

فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ
“Dan janganlah pula kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).”

Dan sudah terang untuk anda bahwa orang kafir Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang yang mendustakan agama Allah, lantas untuk apa diikuti?!! Renungkanlah saudara-saudari ku!


Sumber :
id.wikipedia.org
ainuamri.wordpress.com
lovelyinmyheart.blogspot.co.id