Thursday, August 7, 2014

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Persamaan dan Perbedaan Kitab dan Suhuf. Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Persamaan dan Perbedaan Kitab dan Suhuf

Kitab dan suhuf sama-sama merupakan wahyu dari Allah Swt. yang disampaikan kepada para rasul-Nya untuk disampaikan kepada manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Awalnya wahyu itu di catat dalam lembaran-lembaran kertas. Lembaran-lembaran itu, lalu disatukan menjadi sebuah buku besar dan di susun secara sistematis sesuai petunjuk rasul secara langsung. Kumpulan dari lembaran-lembaran yang sudah berwujud buku itu biasanya di sebut sebagai kitab.

Pengertian Kitab Dan Suhuf


Ada empat kitab yang di turunkan oleh Allah swt, yaitu Taurat, Zabur, Injil, dan Alquran. Kitab dan suhuf itu memiliki kesamaan dan perbedaan. Persamaanya adalah semua kitab itu mengajarkan keesaan Allah swt, sehingga agama-agama islam lahir dan dikenal dengan sebutan agama tauhid, artinya agama yang mengajarkan tentang keesaan allah swt, Perbedaannya terletak pada sifatnya. Kitab-kitab sebelum alquran bersifat lokal dan ajaran-ajaranya sederhana, sedangkan Alquran bersifat universal dan abadi sepanjang masa serta lebih luas ajaranya.

Selain kitab-kitab, di dalam alquran di sebutkan adanya suhuf atau sahifah (halaman), yang berjumlah 100 (seratus) sahifah, suhuf adalah firman Allah swt, yang di turunkan kepada para nabi atau rasulnya yang berisi hukum-hukum sebagai petunjuk dan pedoman dalam menjalankan agamanya, suhuf diberikan kepada :
Suhuf Nabi adam as = 10 suhuf
Suhuf Nabi syits as = 50 suhuf
Suhuf Nabi idris as = 30 suhuf
Suhuf Nabi Ibrahim as = 10 suhuf
Suhuf Nabi musa as 10 = suhuf
Apa Persamaan dan Perbedaan Kitab dan Suhuf ? Mari kita jawab satu persatu.

Apa persamaan Kitab dan suhuf ?

  • Kitab dan suhuf sama-sama merupakan wahyu allah
  • Penerimaan kitab dan suhuf hanya nabi / rasul


Apa perbedaan Kitab dan suhuf ?

  • Kitab lebih lengkap (rinci) daripada suhuf
  • Isi kitab lebih lengkap (rinci) daripada suhuf
  • Kitab bersifat buku (mushaf) sedang suhuf lembaran

Persamaan dan Perbedaan Kitab dan Suhuf
Allah menyatakan bahwa orang yang beriman harus meyakini adanya kitab-kitab suci yang turun sebelum Al Qur’an seperti disebutkan dalam firman Allah SWT:
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya”. (QS An Nisa : 136)

Selain menurunkan kitab suci, Allah juga menurunkan suhuf kepada para nabi seperti Nabi Ibrahim a.s dan nabi Musa a.s. Firman Allah SWT:
(yaitu) suhuf-suhuf (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa” (Al A’la : 19)

Kitab-kitab Allah berfungsi untuk menuntun manusia untuk meyakini Allah SWT dan apa yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya sebagaimana disampaikan dalam firman Allah SWT:
Katakanlah (hai orang-orang mukmin), kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya dan apa yang kami berikan kepada Musa dan Isa seperti apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan kami hanya patuh kepada-Nya.” (QS Al Baqarah : 136)

Perilaku yang mencerminkan Keimanan Kepada Kitab Allah

Keimanan kepada Kitab Allah merupakan salah satu prinsip dasar dalam agama Islam. Kitab Allah, yaitu Al-Qur'an, dianggap sebagai sumber ajaran dan pedoman hidup bagi umat Muslim. Sebagai orang yang beriman, seseorang harus mencerminkan keimanan kepada Kitab Allah dalam perilakunya sehari-hari. Berikut ini adalah beberapa perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Kitab Allah:

1. Membaca dan Memahami Al-Qur'an

Membaca dan memahami Al-Qur'an adalah salah satu bentuk penghormatan kepada Kitab Allah. Seorang yang beriman harus membaca Al-Qur'an dengan niat untuk mendapatkan petunjuk dan kebaikan. Selain itu, ia juga harus berusaha memahami makna dari ayat-ayat Al-Qur'an sehingga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Menerapkan Ajaran Al-Qur'an dalam Kehidupan Sehari-hari

Seorang yang beriman harus menerapkan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Ia harus mempraktikkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an seperti kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan kebersihan. Dengan menerapkan ajaran Al-Qur'an, seseorang dapat memperbaiki dirinya sendiri dan juga memberikan manfaat bagi orang lain.

3. Menjaga Kehormatan Al-Qur'an

Seorang yang beriman juga harus menjaga kehormatan Al-Qur'an. Ia tidak boleh menyalahgunakan atau mengabaikan isi dari Al-Qur'an. Selain itu, ia juga harus menghormati fisik dari Al-Qur'an seperti menyimpannya di tempat yang bersih dan tidak menyimpannya bersama dengan barang-barang yang tidak pantas.

4. Menjauhi Perilaku yang Bertentangan dengan Ajaran Al-Qur'an

Seorang yang beriman harus menjauhi perilaku yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an seperti berbohong, merugikan orang lain, melakukan perbuatan keji, dan lain sebagainya. Dengan menjauhi perilaku yang buruk, seseorang dapat meningkatkan kualitas hidupnya dan menjadi pribadi yang lebih baik.

5. Berdakwah dan Menyebarkan Ajaran Al-Qur'an

Seorang yang beriman juga harus berdakwah dan menyebarkan ajaran Al-Qur'an. Ia dapat melakukan hal ini dengan cara memberikan contoh yang baik dalam kehidupannya sehari-hari atau dengan cara mengajarkan Al-Qur'an kepada orang lain yang membutuhkan.





اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Pentingnya Mengimani Kitab-Kitab Allah Swt. Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Pentingnya Mengimani Kitab-Kitab Allah Swt

Beriman kepada kitab-kitab Allah Swt. merupakan salah satu rukum iman dalam agama Islam. Jadi jelas bahwa pentingnya mengimani Kitab-Kitab Allah Swt karena hal tersebut merupakan salah satu rukun iman, sesorang belum dikatakan beriman jika tidak mengimani kitab-kitab Allah swt.

Iman kepada kitab Allah Swt. berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt. telah menurunkan kitab kepada nabi atau rasul yang berisi wahyu untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa ada empat kitab Allah Swt. yang diturunkan kepada para nabi-Nya, yaitu; (1) Taurat diturunkan kepada Nabi Musa as., (2) Zabur kepada Nabi Daud as., (3) Injil kepada Nabi Isa as., dan (4) al-Qur’ān kepada Nabi Muhammad saw. Firman Allah Swt. yang artinya:

Dan Kami telah menurunkan Kitab (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu...” (Q.S. al-Maidah/5: 48)

Pentingnya Mengimani Kitab-Kitab Allah
Al-Qur'an
Kitab-kitab yang dimaksudkan pada ayat di atas adalah kitab yang berisi peraturan, ketentuan, perintah, dan larangan yang dijadikan pedoman bagi umat manusia. Kitab-kitab Allah Swt. tersebut diturunkan pada masa yang jamannya berbeda-beda. Semua kitab tersebut berisi ajaran pokok yang sama, yaitu ajaran meng-esa-kan Allah (tauhid). Yang berbeda hanyalah dalam hal syariat yang disesuaikan dengan zaman dan keadaan umat pada waktu itu.

Marilah kita renungkan, apa jadinya jika kita menaiki kendaraan di jalan tidak memiliki tujuan yang jelas. Kita hanya naik dan tidak tahu akan ke mana. Tentu kita hanya akan menghambur-hamburkan bahan bakar atau tenaga dan mengganggu perjalanan pengguna jalan yang lain. Bahkan lama-kelamaan kita bisa tersesat. Demikian juga halnya dengan kehidupan manusia di dunia ini. Jika hidup ini tidak memiliki arah yang jelas dan benar, hanya akan menghabiskan usia tanpa bermanfaat dan kemudian tersesat. Jadi, hidup ini harus memiliki arah atau tujuan yang jelas dan benar.

Lalu siapa yang mengetahui arah dan tujuan hidup yang benar itu? Tentu yang mengetahui secara pasti adalah Allah Swt., Tuhan yang menciptakan manusia. Mahasuci Allah yang tidak menghendaki manusia hidup dalam kesesatan. Oleh karena itu, Allah Swt. memberikan arah yang jelas dengan cahaya petunjuk-Nya. Allah memberikan petunjuk mengenai tata cara mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga kelak di akhirat dapat bertemu dengan-Nya dalam keadaan menjadi hamba yang dikasihi-Nya. Allah menghendaki makhluq-Nya hidup saling membantu, saling membahagiakan, serta menanam berbagai amal kebaikan selama hidup di dunia. Sebaliknya, Allah Swt. tidak menghendaki manusia saling menyengsarakan dan menyakiti satu sama lain.

Manusia yang dapat menjalani hidupnya dengan benar dan terarah bakal merasakan kebahagiaan dalam kehidupannya. Sebaliknya, mereka yang menjalani hidup tanpa menggunakan aturan dan seenaknya sendiri tentu akan lebih sering mengalami masalah, kesulitan, dan kegelisahan. Orang yang tidak pernah mengindahkan aturan juga dapat membuat orang lain di sekelilingnya merasa terganggu bahkan gelisah.

Jadi, petunjuk Allah yang termaktub di dalam kitab-kitab yang diturunkan-Nya merupakan panduan untuk kebahagiaan manusia di dunia maupun akhirat. Sekali lagi, kitab itu itu benar-benar berisi cara untuk membimbing kita untuk meraih kebahagiaan. Sungguh rugi manusia yang tidak mengimani kitab-kitab Allah Swt., tidak pernah membaca, memahami, memegang teguh serta melaksanakan isi Kitab Suci itu. Sungguh rugi, sungguh merugi, dan sungguh sangat merugi. 




Wednesday, August 6, 2014

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Kisah Anak Durhaka Kepada Orang Tua. Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Kisah Anak Durhaka Kepada Orang Tua

Anak yang durhaka kepada orang tua merupakan dosa yang sangat besar, berikut ini kami sajikan empat kisah anak durhaka kepada orang tua berikut, kisah pertama menceritakan tentang seorang anak durhaka yang tega meninggalkan ibunya sendiri sampai akhirnya meninggal dunia. Kisah kedua merupakan kisah nyata yang terjadi di China tentang seorang anak durhaka yang tidak mengakui ibunya. Kisah ketiga menceritakan bagaimana saat kematian seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Sedangkan kisah keempat menceritakan penderitaan hidup seorang anak durhaka.

1. Anak Durhaka yang Tega Meninggalkan Ibunya

Sebuah kisah anak durhaka kepada orang tua yang sangat memilukan dan mengharukan.

Alkisah, ada serombogan mahasiswa yang sedang KKN di sebuah desa. Suatu hari saat mereka sedang bersantai sambil membawa makanan untuk makan, tiba-tiba mereka dihampiri oleh seorang nenek yang sudah tua. Nenek itu memungut makanan yang tercecer di tanah dan memakannya.

Kisah Anak Durhaka Kepada Orang Tua
Kisah Anak Durhaka Kepada Orang Tua
Ketika melihatnya, mereka langsung menghampirinya dan bertanya,”Nenek lapar?” Nenek itu menjawab,”Aku di sini sejak pagi dan belum makan apa-apa. Anakku membawaku kesini sejak Subuh tadi. Dia pergi meninggalkanku dan mengatakan kepadaku bahwa dia akan datang dan mengambilku sebentar lagi.”

Singkat cerita, salah seorang mahasiswa memberi nenek itu makanan dan nenek itu pun makan bersama mereka. Setelah malam makin larut, mahasiswa-mahasiswa tersebut mengemasi barang-barang mereka. Para mahasiswa itu merasa bahwa waktu sudah larut dan cuaca makin dingin. Sementara mereka tidak tega meninggalkan nenek tersebut dalam kondisi seperti itu dimalam hari. Salah satu dari mereka menghampirinya dan bertanya,”Engkau punya nomor telepon anakmu yang bisa kami hubungi agar dia datang menjemputmu?” Nenek itu menjawab,”Oh ya, aku ada nomor teleponnya di kertas.

Tatkala kertas itu dibaca, ternyata tertulis: “Siapa saja yang menemukan wanita ini harap membawanya ke panti jompo.” Para mahasiswa itu tersentak kaget melihat tulisan tersebut. Mereka duduk sesaat untuk merayu nenek itu mau pergi bersama mereka. Mereka berusaha agar nenek itu mau pergi bersama mereka ke tempat yang diinginkannya. Tentu saja nenek itu tidak mau pergi bersama mereka, karena anaknya berjanji padanya akan datang untuk menjemputnya. Nenek itu bersikeras untuk menunggu kedatangan anaknya. Dia mengatakan, “Anakku akan datang menjemputku dan aku akan menunggunya.”

Nenek malang itu tidak tahu bahwa anaknya mengelabuhinya dan membuangnya pada saat dia sangat membutuhkannya.

Para mahasiswa itu pun meninggalkannya dengan harapan bahwa si anak akan datang menjemputnya sesuai dengan janjinya, walaupun mereka berpikir bahwa anak nenek tersebut adalah anak yang durhaka kepada orang tua. Salah seorang mahasiswa dari mereka merasa tidak bisa tidur karena memikirkan nasib nenek malang itu. Mahasiswa itu pun bangun, berganti baju dan mengendarai mobilnya menuju pantai. Setibanya disana dia melihat ambulans, polisi dan orang-orang berkerumun. Dia masuk di sela-sela mereka dan melihat nenek itu sudah meninggal dunia. Ketika dia bertanya kepada mereka tentang sebab kematiannya, mereka menjawab.”Tekanan darahnya naik dan ia meninggal dunia.” Dia meninggal dunia karena kecemasannya terhadap anaknya; jangan-jangan anaknya mengalami sesuatu sehingga tidak datang menjemputnya. Dia meninggal dunia saat menunggu kedatangan anaknya yang berjanji akan menjemputnya. Dia meninggal dunia saat jauh dari keluarganya.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya dan memasukkannya kedalam surga-Nya melalu pintu yang paling lebar. Amin.
Saya berharap agar semua orang yang membaca kisah ini mau menyebarluaskannya supaya menjadi peringatan bagi setiap anak yang durhaka kepada orang tuanya.


2. Anak Durhaka yang Tidak Mau Mengakui Ibunya

Anak durhaka tidak hanya Malin Kundang seperti yang kita kenal. Di China, seorang anak durhaka menolak untuk menemui ibunya karena anak durhaka itu menganggap ibunya kampungan.

Ding Liang, seorang ibu berusia 63 tahun tampak menangis tersedu-sedu di pinggiran jalan Kota Hangzhou, China. Hsin Pai, pria berusia 53 tahun yang melihat ibu itu merasa tergugah dan menanyakan apa yang terjadi.

Ibu tua itu akhirnya mencurahkan kesedihannya kepada Hsin Pai. Ding Liang mengaku berasal dari sebuah desa di pinggiran Kota Yuyao, Provinsi Hangzhou. Sudah lima jam dia menghabiskan waktu di perjalanan dari desanya ke kota tempat anaknya tinggal. Menurut Ding Liang, putranya pindah ke kota untuk kuliah beberapa tahun lalu, Setelah menyelesaikan kuliahnya, dia mendapatkan pekerjaan yang bagus di sebuah dealer mobil.

Saat sudah sukses, putra Ding menikah dengan seorang perempuan dan Ding pun berniat menghadiri pernikahan putranya. Tapi saat berada di pesta pernikahan, putra Ding merasa malu dengan kedatangan ibunya karena datang dengan dandanan kampungan. Putranya merasa marah dan malu untuk mengakui bahwa Ding adalah ibu kandung yang melahirkannya. Setelah pernikahan itu, putranya mulai mengabaikan Ding dan seluruh keluarganya di desa.

Ding Liang sudah pasrah dengan kenyataan itu, ibu itu sadar bahwa anaknya punya kehidupannya sendiri saat ini. Suatu jari anaknya menelpon Ling untuk mengabarkan bahwa dia sudah punya bayi. Mendengar hberita menggembirakan itu, Ding ingin mengunjunginya dan membawakan cucunya hadiah.

Namun ketika Ding mengabarkan akan datang menengok cucunya, putranya melarang. Dia bilang terlalu malu karena saya terlalu buruk. Suami saya juga melarang, tetapi saya ingin datang karena menantu saya melahirkan dan ingin memberikan hadiah kepada cucuku. Saat sang ibu ingin menemui anaknya, Ding bangun pukul 04.00 pagi dan berpakaian yang sudah dibelinya khusus untuk itu. Dia membungkus pakaian dan hadiahnya dalam dua buah kantung yang dibawa dengan sebuah tongkat. Akhirnya Ding tiba di kota setelah menempuh perjalanan dengan bus selama lima jam, sayangnya Ding tidak memiliki alamat tinggal anaknya. Namun ketika menelpon sang anak, dia itu tidak mau mengangkat.

Sampai menjelang pukul 10.00, Ding tanpa putus asa berputar-putar dan mencari. Dua orang pekerja bangunan sampai mengira dirinya adalah seorang pemulung. Ketika dijelaskan bahwa dia sedang mencari putranya, mereka mencoba memberikan bantuan tetapi semuanya tidak bisa banyak membantu.

Di saat itulah Hsin yang merasa kasihan dengan Ding memberikan bantuan. Dirinya memutuskan untuk membawa ceritanya ke media di China. Tidak butuh waktu lama kisah Ding menarik perhatian begitu banyak pihak. Ding bercerita kepada wartawan, bahwa dia dan suaminya adalah orang yang miskin, tapi  mereka berupaya keras agar sang putra bisa kuliah.

Ding bekerja sebagai pembantu rumah tangga sementara suaminya bekerja sebagai buruh bangunan. Pasangan suami istri itu pun sampai harus meminjam banyak uang demi biaya kuliah anaknya. Ding bahkan meminjam uang untuk keperluan biaya pernikahan putranya. Bahkan sempat memberikan kalung emasnya kepada sang menantu, ketika mengetahui anak mantunya menghadapi kesulitan keuangan.

Namun pada akhirnya, Ding pun menyerah. Dia kembali ke desanya membawa kembali hadiah yang tadinya untuk sang cucu. Saking sayangnya dengan sang anak durhaka tersebut, Ding bahkan tidak mau menyebarkan foto dan namanya untuk melindunginnya agar tidak dicerca oleh orang lain.

3. Kisah Sakratul Maut Anak yang Durhaka pada Orang Tua

Pada suatu ketika Rasulullah saw mendatangi seorang pemuda saat menjelang kematiannya. Beliau mengajarkan kepadanya kalimat syahadah: Lailaha illallah. Tetapi lisan pemuda itu terkunci. Rasulullah saw bertanya kepada seorang ibu yang ada di dekat kepalanya: Apakah ibunya masih hidup?

Ia menjawab: Ya, saya adalah ibunya.
Rasulullah saw bertanya: Apakah kamu murka kepada anakmu?
Ibunya menjawab: Ya, saya sudah tidak berbicara dengannya selama 6 haji (6 tahun).
Rasulullah saw bersabda: Ridhai dia!
Ibunya menjawab: Saya ridha kepadanya sebab ridhamu padanya.
Kemudian Rasulullah saw mengajarkan kembali kepada pemuda itu kalimat: Lailaha illallah.

Akhirnya pemuda itu sekarang dapat mengucapkan kalimat Lailaha illallah.
Rasulullah saw bertanya kepada pemuda itu : Apa yang kamu lihat tadi?

Pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki−laki yang bermuka hitam, pandangannya jahat, pakaiannya amat kotor, baunya busuk, ia mendekat kepadaku, dan marah padaku.
Kemudian Rasulullah saw membimbingnya membaca:

يَا مَنْ يَقْبَلُ الْيَسِيْرَ وَيَعْفُو عَنِ الْكَثِيْرِ اِقْبَلْ مِنِّى الْيَسِيْرَ، وَاعْفُ عَنِّي الْكَثِيْرَ اِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya : Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan Mengampuni dosa yang banyak, terimalah amalku yang sedikit, dan ampuni dosaku yang banyak, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Pemuda itu lalu mengucapkan apa yang diucapkan oleh Rasulullah SAW.
Rasulullah saw bertanya lagi: Sekarang apa yang kamu lihat?

Pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki−laki yang berwajah putih dan indah, baunya harum , pakaiannya bagus ; ia mendekat padaku, dan aku melihat orang yang berwajah hitam tadi menjauh dariku.

Rasulullah saw bersabda: Perhatikan lagi, ia pun memperhatikan.
Kemudian beliau bertanya: Apa yang engkau lihat sekarang.
Pemuda menjawab: Aku tidak melihat lagi orang yang berwajah hitam itu, aku hanya melihat orang yang wajahnya putih, dan cahaya meliputi keadaan ini. (Al−Mustadrak 2:129)

Renungkanlah baik-baik peristiwa ini, dan perhatikan betapa banyak akibat buruk durhaka kepada orang tua.

Bukankah pemuda itu adalah salah seorang sahabat Nabi saw, beliau menjenguknya, duduk di dekat kepalanya, dan beliau sendiri yang mengajarkan kalimat tauhid kepada pemuda itu. Tapi ia tidak mampu mengucapkannya, setelah ibunya memaafkan dan meridhainya barulah ia dapat mengucapkan kalimat syahadah.

sumber : laillail.blogspot.com



4. Kisah Anak Durhaka yang Menderita Kehidupannya

Syahdan pada sekitar awal tahun 1950 an, ada sebuah keluarga di daerah Ciamis. Sang ayah sebagai kepala keluarga adalah seorang supir pribadi dengan anak 7 orang, 6 diantaranya laki-laki. Diantara keenam anak laki-laki itu ada 1 orang anak (sebut saja namanya Cecep) yang sangat bandel dan sangat kasar kepada orangtuanya sendiri sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi kepada Cecep. Jika keinginannya tidak dipenuhi Cecep akan mengamuk, menghancurkan barang-barang di rumahnya bahkan setelah Cecep menginjak dewasa dia sering memaksa orangtuanya untuk memberikan uang dengan ancaman akan membunuh orangtuanya sendiri. Sungguh Cecep telah tumbuh menjadi seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya.


Setelah dewasa Cecep jatuh cinta kepada seorang wanita cantik yang berasal dari tanah minang (sebut saja namanya Mina). Awalnya orang tua Mina tidak menyetujui hubungan mereka karena melihat kelakuan Cecep yang tidak baik. Tapi Mina tetap mengejar-ngejar Cecep sampai mau bunuh diri kalau tidak direstui oleh orangtuanya. Akhirnya Cecep dan Mina menikah pada tahun 1975 dan mereka dikaruniai 2 orang anak, yang tua anak laki-laki dan yang kedua anak perempuan.

Pada awal pernikahan, Cecep dan Mina bahagia sekali karena harta mereka cukup banyak. Tetapi disaat anak-anaknya berusia 10 tahunan, mulailah goyang perekonomian, Cecep kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Disaat itulah mereka sering bertengkar dan Mina ingin bercerai, tetapi Cecep tidak mau. Dan akhirnya Mina ingin pulang ke kampung halamannya, mereka hijrah ke sana dengan membawa kedua anaknya.Setelah sampai di tanah Minang mereka tinggal di tempat orangtua Mina.

Baru sebulan mereka tinggal disana, istrinya mengadu kepada orangtuanya bahwa dia hidup susah bersama Cecep sehingga orangtua istrinya mengusir Cecep dari rumahnya. Setelah beberapa waktu kemudian Mina dijodohkan dengan sesama orang minang sampai menikah mereka menikah, melihat kejadian itu Cecep sakit hati, dia tidak bisa berontak karena lemah tanpa daya berada di kampung orang lain dan tanpa sanak saudara yang jauh di Jawa. Cecep menjadi  stress dan sakit hati bagai disambar petir di atas kepalanya karena status pernikahannya belum bercerai.

Cecep akhirnya  sebatang kara sengsara jadi gelandangan, dia ingin pulang ke Ciamis tapi tidak punya ongkos tidak ada uang sepeserpun. Suatu hari Cecep bertemu dengan seorang Jawa dan orang jawa itu merasa kasihan kepadanya. Dia memberi makan dan ngobrol “darimana asalmu de?” Cecep menjawab “sayah mah dari Ciamis, sayah teh bukan orang sini, saya ingin pulang ke kampung halaman tapi tidak punya uang”. Setelah lama bercerita akhirnya orang jawa itu mengajak pulang ke Jawa dengan memberi ongkos. Setelah sampai di Ciamis dan tiba di rumah orangtuanya, orang jawa itu mengantar dan menceritakan keadaan Cecep di Sumatera hidup terlunta-lunta sejak diusir istrinya. Setelah itu orangtua Cecep berusaha mengobati ke paranormal tetapi tidak juga ada hasilnya, paranormal mengatakan bahwa Cecep telah diguna-guna oleh istrinya agar menjadi gila.

Mendengar hal itu orangtua Cecep jadi kecewa karena anaknya tidak bisa sembuh lagi sampai berobat ke berbagai tempat.Setelah beberapa tahun kemudian orangtua Cecep meninggal dunia. Cecep hidup sendiri lagi, hanya ada seorang adiknya yang mengurusnya di Ciamis sedangkan adik-adik yang lainnya sudah berumah tangga dan takut kepada Cecep karena dia sering mengamuk dan jahat kepada adik-adiknya untuk melampiaskan kemarahan kepada istrinya yang menghianatinya. Menginjak usia 40 tahun, Cecep meninggal dunia di Ciamis, adik-adiknya menguburkannya. Setelah 2 tahun Cecep meninggal, anaknya yang perempuan di Sumatera juga meninggal karena tidak diurus oleh ibunya terkena keracunan makanan, sedangkan anak yang laki-lakinya pergi mencari ayahnya ke Jawa, tetapi sayang Cepep itu sudah meninggal dunia sehingga tidak bisa bertemu.

Dari kisah tersebut dapat kita tarik hikmah bahwa seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya akan mengalami banyak penderitaan pada hidupnya.


Semoga kisah-kisah anak durhaka kepada orang tua di atas dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, aamiin.