Tuesday, April 7, 2015

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Pengertian Islam dan Muslim. Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Pengertian Islam dan Muslim

Pengertian Islam

Pengertian Islam dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi bahasa dan segi istilah. Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Sebagaimana firman Allah SWT:

Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati” (Q.S. 2:112)..

Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya.

Hal senada dikemukakan Hammudah Abdalati. Menurutnya, kata “Islam” berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan.

Dalam pengertian religius, menurut Abdalati, pengertian Islam adalah "penyerahan diri kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas hukum-Nya" (Submission to the Will of God and obedience to His Law).
Hubungan antara pengertian asli dan pengertian religius dari kata Islam adalah erat dan jelas. Hanya melalui penyerahan diri kepada kehendak Allah SWT dan ketundukkan atas hukum-Nya, maka seseorang dapat mencapai kedamaian sejati dan menikmati kesucian abadi.

Ada juga pendapat, akar kata yang membentuk kata “Islam” setidaknya ada empat yang berkaitan satu sama lain.
Aslama. Artinya menyerahkan diri. Orang yang masuk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah SWT. Dia siap mematuhi ajaran-Nya.
Salima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat.
Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain. Seorang pemeluk Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas dakwah atau ‘amar ma’ruf nahyi munkar).
Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan yang damai sentosa akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan asalama dan sallama.
Pengertian Islam: Terminologis

Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan, Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Cukup banyak pakar dan ulama yang berusaha merumuskan definisi atau pengertian Islam secara terminologis. KH Endang Saifuddin Anshari mengemukakan, setelah mempelajari sejumlah rumusan mengenai agama Islam, lalu menganalisisnya, dia merumuskan dan menyimpulkan pengertian Islam, bahwa agama Islam adalah:
Wahyu yang diurunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap persada.

Suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam pelbagai hubungan: dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lainnya.
Bertujuan: keridhaan Allah, rahmat bagi segenap alam, kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariatm dan akhlak.
Bersumberkan Kitab Suci Al-Quran yang adalah kodifikasi wahyu Allah SWT sebagai penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah Saw. Wallahu a'lam.

Pengertian Muslim

Istilah Muslim sendiri biasanya diiringi dengan istilah-istilah lainnya, dari beberapa sumber diantaranya adalah :
  1. Secara harfiah Muslim artinya berserah diri
  2. Muslim artinya adalah orang yang sudah mengucapkan 2 kalimat syahadat
  3. Mukmin artinya orang muslim yang beriman
  4. Muttaqin artinya orang mukmin yang bertaqwa (menjelankan perintah dan meninggalkan larangan Allah)
  5. Muhlisin artinya orang muttaqin yang selalu ikhlas dalam setiap tindakannya. Inilah tingkatan yang paling mulia di sisi Allah)
yang pasti setiap orang yang mengucapkan syahadat berarti ia sudah muslim.tetapi untuk menjadi muslim yang sebenarnya ia harus menjalankan ajaran ajaran islam dengan sebenar-benarnya.

Secara makna = orang yang berserah diri.
secara istilah = orang yang beragama Islam.

Muslim adalah orang yang berserah diri kepada Allah SWT, spt maksud dalam Al-Quran surah : Al-Hajj (22) : 78 yang artinya :
"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu , dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong."

sumber: http://inilahrisalahislam.blogspot.com/





Tuesday, March 31, 2015

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Syariah dalam Agama Islam. Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Syariah dalam Agama Islam

Islam (Arab: al-islām, الإسلام : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam mempunyai arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup biasanya mengandung 3 ajaran pokok:
  1. Ajaran-ajaran yang berhubungan dengan kaidah (keimanan) yang membicarakan mengenai hal-hal yang wajib diyakini, seperti masalah tauhid, masalah kenabian, tentang kitab-Nya, Malaikat, hari Kemudian dan sebagainya yang berhubungan dengan doktrin ‘akidah.
  2. Ajaran-ajaran yang berhubungan dengan akhlak, yaitu hal-hal yang harus dijadikan perhiasan diri oleh setiap mukallaf berupa sifat-sifat keutamaan dan menghindarkan diri dari hal-hal yang membawa kepada kehinaan.
  3. Hukum-hukum amaliyah, yaitu ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan amal perbuatan mukalaf. Dari hukum-hukum amaliyah inilah timbul dan berkembangnya ilmu fikih, hukum-hukum amaliyah dalam Al-Qur’an terdiri dari dua cabang, yaitu hokum-hukum badah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dan hokum-hukum mu’amalat yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya.

Abdul Wahhab Khallaf merinci macam hukum-hukum bidang mu’amalat dan jumlah ayatnya seperti berikut ini:
  1. Hukum keluarga, mulai dari terbentuknya pernikahan sampai masalah talak, rujuk, ‘iddah, dan sampai msalah warisan. Ayat-ayat yang mengatur masalah ini tercatat sekitar 70 ayat. Surat al-Baqarah ayat 234
  2. Hukum mu’amalat (perdata), yaitu hukum-hukum yang  mengatur hubungan seseorang dengan sesamanya, seperti jual beli, sewa menyewa, gadai menggadai, utang piutang, dan hokum perjanjian. Hokum-hukum jenis ini mengatur hubungan perorang, masyarakat, hal-hal yang berhubungan dengan harta kekayaan, dan memelihara hak dan kewajiban masing-masing. Ayat-ayat yang mengatur hal ini terdiri dari 70 ayat. Contoh: surat an-Nisa’ ayat 29
  3. Hukum jinayat (pidana), yaitu hokum-hukum yang menyangkut dengan tindakan kejahatan. Hukum-hukum seperti ini bermaksud untuk memelihara stabilitas masyarakat, seperti larangan membunuh serta sanksi hukumnya, larangan menganiaya orang lain, berzina, mencuri, serta ancaman hokum atas pelakunya. Ayat-ayat yang mengatur hal ini sekitar 30 ayat. Surat al-Maidah ayat 90
  4. Hukum al-murafa’at (acara), yaitu hokum-hukum yang berkaitan dengan peradilan, kesaksian, dan sumpah. Hokum-hukum seperti ini dimaksudkan agar putusan hakim dapat seobjektif mungkin, dan untuk itu diatur hal-hal yang memungkinkan untuk menyingkap mana pihak yang benar dan mana yang salah. Ayat-ayat yang mengatur hal ini berjumlah sekitar 13 ayat.
  5. Hukum ketatanegaraan, yatiu ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan pemerintahan. Hukum-hukum seperti ini dimaksudkan untuk mengatur hubungan penguasa dengan rakyat, dan mengatur hak-hak pribadi dan masyarakat. Ayat ayat yang berhubungan dengan masalah ini sekitar 10 ayat. An-Nahl ayat 90
  6. Hukum antara bangsa (internasional), yaitu hukum-hukum yang mengatur hubungan antara Negara islam dengan non islam, dan tata cara pergaulan dengan non muslim yang berada di Negara islam. Ayat-ayat yang mengatur hal ini sekitar 25 ayat. QS Al-Hujarat ayat 13
  7. Hukum ekonomi dan keuangan, yaitu hukum-hukum yang mengatur hak-hak fakir miskin dari harta rang-orang kaya. Hukum-hukum semacam ini dimaksudkan untuk mengatur hubungan keuangan antara orang yang berupaya dan orang-orang yang tidak berupaya, dan antara Negara dan perorangan. Ayat-ayat yang mnegatur bidang ini sekitar 10 ayat.

Syariah dalam Agama Islam

SYARIAH ISLAM

Syariah Islam (fikih) adalah kumpulan aturan yang berdasar pada Quran, hadits Nabi, pendapat ulama salaf, dan hasil ijtihad pakar agama atau ulama fiqih. Syariah Islam memberi tuntunan cara berhubungan antara manusia dengan Allah, dengan individu, dan dengan masyarakat dan alam. Syariah juga memberi tuntunan atas apa yang boleh dikerjakan (halal) dan apa yang tidak boleh dilakukan (haram). Hal terpenting dari syariah Islam adalah rukun Islam yang lima.


SYARIAH ISLAM ADA TIGA: AQIDAH, TAHDZIB, AMALIYAH

Hukum-hukum yang terkandung dalam syariah Islam terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu aqidah, tahdzib dan amaliyah.

Hukum aqidah: yaitu hukum-hukum yang terkait dengan dzat Allah dan sifat-sifatnya dan iman pada-Nya. Ini disebut dengan ilahiyah. Dari hukum ini terkait hukum-hukum yang lain yang berkaitan dengan para Rasul dan beriman pada mereka; dengan kitab-kitab suci yang diturunkan pada mereka yang dikenal dengan nubuwwah (kenabian). Dari hukum akidah ini terkait juga perkara ghaib yaitu yang dikenal dengan samaiyat (berdasarkan pendengaran). Hukum-hukum akidah ini terkumpul dalam satu bidang ilmu yang disebut Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam.

Hukum Tahdzib (penyucian diri): yaitu hukum yang mendorong untuk melakukan nilai-nilai utama dengan menjauhkan diri dari nilai dan perilaku yang hina. Oleh sebab itu, terdapat juga hukum-hukum yang terkait dengan perilaku dan nilai keburukan yang wajib dijauhi seperti dusta, khianat, menyalahi janji, dan lain-lain. Hukum tahdzib ini disebut Ilmu Akhlak atau Ilmu Tasawuf.

Hukum Amaliyah: yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan perilaku atau perbuatan manusia. Hukum-hukum ini masuk dalam kategori Ilmu Fiqih Islam.

sumber: wikipedia.com




Sunday, March 22, 2015

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Cara menghilangkan sifat egois dalam Islam. Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Cara menghilangkan sifat egois dalam Islam

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, sebab telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kalian barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa  : 1-4)"

Dalam serapan asing dan bahasa Indonesia, kata egois berarti orang yang mementingkan diri sendiri, tidak peduli akan orang lain atau masyarakat. Dalam kamus bahasa Indonesia online,  egois berarti tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri dari pada untuk kesejahteraan orang lain atau segala perbuatan dan tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri.

Ketika ada orang yang lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri ketimbang orang lain, maka kita sebut ia adalah orang egois. Begitu juga, saat ada orang yang selalu ingin menang sendiri, kita sebut orang itu dengan sebutan yang sama, yaitu egois. Pernahkah kita melalukan tindakan yang menurut orang lain itu egois? Padahal dalam diri kita sendiri, tindakan itu sama sekali bukan egois.

Cara menghilangkan sifat egois dalam IslamTak jarang keegoisan seseorang membuat orang lain menjadi benci pada dirinya, bahkan tidak sedikit pula yang memusuhinya. Ketika awal mula berteman, sifat keegoisannya belum kelihatan, tetapi setelah lama-kelamaan akhirnya tahu juga bahwa sang teman mempunyai sifat egois. Tentu yang dilakukan adalah menjaga jarak dari sang teman atau memilih tidak menjadi temannya lagi.

Coba kita bayangkan jika keegoisan tumbuh dalam sebuah keluarga. Biasanya, saat masih  menjadi suami-istri baru, sifat egois tidak kelihatan, tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya kelihatan juga. Jika tidak pintar dalam menyikapinya bisa dipastikan hubungannya tidak bertahan lama, dan berakhir dengan perceraian.

Nabi Pernah Egois
Semua manusia pernah egois, tetapi kadang secara sadar atau pun tidak sadar tidak merasa melakukannya. Menurut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, demikian juga riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari Ibnu Abbas : “Sedang Rasûlullâh menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal dan Abbas bin Abdul Muthalib dengan maksud memberi keterangan kepada mereka tentang hakikat Islam agar mereka sudi beriman. Pada waktu yang sama, masuklah seoranglaki -laki buta, yang dikenal namanya dengan Abdullah bin Ummi Maktum”.

Dia masuk ke dalam majelis dengan tangan meraba-raba. Sejenak Rasûlullâh terhenti bicara, Ibnu Ummi Maktum memohon kepada Nabi agar diajarkan padanya beberapa ayat al-Qur’an. Beliau merasa terganggu sebab sedang menghadapi pemuka-pemuka Quraisy, kelihatanlah wajah beliau masam menerima permintaan Ibnu Ummi Maktum, sehingga perkataannya itu seakan-akan tidak beliau dengarkan. Beliau terus juga menghadapi pemuka-pemuka Quraisy itu. Akhirnya Allâh menurunkan surat ‘Abasa  yang artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, sebab telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kalian barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa  : 1-4)

Setelah ayat itu turun, sadarlah Rasûlullâh saw akan kekhilafannya itu. Lalu segera beliau hadapilah Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang ia minta. Ibnu Ummi Maktum pun menjadi seorang yang sangat disayangi oleh Rasûlullâh saw. Allâh swt begitu halus mengingatkan Rasûlullâh saat beliau sedikit saja melakukan kesalahan, sebab menurut Rasûlullâh melobi para pembesar Quraisy lebih penting dibandingkan dengan melayani Ibnu Ummi Maktum.

Tipe Egois
Sikap egois bisa kita temukan dimana pun, lebih tepatnya adalah dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satu ciri orang yang egois; Mendustakan ayat-ayat Allâh, ingin menang sendiri, suka mengatur tapi tidak mau diatur, dan keras kepala.

Pertama, mendustakan ayat-ayat Allâh swt. Dalam hal ini cakupannya sangat luas sekali. Orang kafir bisa dikategorikan orang yang egois, sebab mereka enggan memeluk islam. Padahal agama Islam adalah agama penyempurna bagi agama sebelumnya. Sehingga jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dikatakan orang yang super egois.

Orang yang mengaku muslim (orang Islam) tetapi tidak melaksanakan perintah-perintah Allâh maka termasuk ke dalam orang-orang egois. Misalnya saja tidak melaksanakan sholat lima waktu, dan amalan-amalan yang lain yang Allâh perintahkan, serta tidak meninggalkan apa yang Allâh larang, misalnya mabuk-mabukan, berfoya-foya, dan lain sebagainya.

Pengertian egois yang dimaksud di sini, yaitu mereka egois pada dirinya sendiri dan seolah tidak peduli dengan pahala dan ancaman Allâh swt. Padahal akibat ke-egois-an merekalah Allâh swt memberikan sebuah peringatan melalui tentara-tentaranya. Misalnya saja Allâh mengirimkan tentara air, tanah, angin, dan sebagainya. Sehingga timbullah banjir, angin puting beliung, longsor, gempa bumi dan lainnya.

Kedua, ingin menang sendiri. Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan adalah hal yang lumrah. Menjadi bermasalah saat ada orang yang ingin menang sendiri, tidak mau kalah. Untuk apa menang kalau tidak sportif, menang seperti ini sama saja kalah. Tentu, kemenangan sesungguhnya adalah menang yang diperoleh dengan secara sportif, tentu cara seperti ini lebih terhormat. Akibat sifatnya inilah biasanya seseorang dijauhi serta di musuhi teman-temannya.

Orang yang ingin menang sendiri biasanya tidak peduli dengan apa yang ia lakukan, walaupun itu sebetulnya salah. Untuk itu berhati-hatilah bila mempunyai teman yang seperti ini. Sedini mungkin untuk diingatkan sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Jika bukan anda sebagai sahabatnya, maka siapa lagi.

Ketiga, suka mengatur tapi tidak mau diatur. Seorang pemimpin dituntut untuk mampu memimpin bawahannya. Tetapi masa menjadi seorang pemimpin itu ada batas dan jangka waktunya. Ketika menjadi seorang pemimpin ia bisa mengatur anggotanya seperti apa yang diinginkan. Tetapi saat masa jabatannya habis, ia kembali menjadi anggota, maka harus siap diatur pemimpin yang baru. Sama seperti dirinya mengatur saat menjadi pimpinan.

Saat ini, banyak sekali kita temukan orang-orang yang siap memimpin tetapi tidak siap dipimpin. Ketika ia sudah tidak lagi memegang jabatan sebagai pemimpin, ia memilih keluar. Inilah potret yang saat ini terjadi dan sudah membudaya. Akhirnya bermusuhan dan saling menjatuhkan satu sama lain, sehingga perseteruan ini tanpa akhir alias jadi “musuh bebuyutan”.

Keempat, keras kepala. Keras kepala identik dengan sebutan kepala batu, artinya isi kepalanya sangat keras sehingga sangat sulit untuk dihancurkan. Orang berkepala batu yaitu orang yang tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Orang yang berkepala batu biasanya berpasangan dengan muka tembok dan keras hati. Jika tiga unsur ini sudah menyatu, maka sangat sulit untuk mengubahnya apa lagi untuk diingatkan.

Orang yang keras kepala pada masa Nabi Musa as adalah Fir’aun, dan akhirnya Allâh swt tenggelamkan Fir’aun dan tentaranya di tengah lautan. Tak hanya itu, pada masa Nabi Nuh as. umatnya juga sangat keras kepala. Sehingga Allâh swt mengirimkan banjir bandang yang sangat dahsyat, sehingga tidak ada yang selamat dari umatnya Nabi Nuh walaupun pun mereka lari ke atas gunung. Kecuali yang ikut naik kapal dengan Nabi Nuh as mereka selamat.

Cara menghilangkan sifat egois dalam Islam


Pribadi egois adalah pribadi yang melihat segala sesuatu dari kacamatanya. Dia tidak bisa memahami pikiran orang, perasaan orang, dan selalu menuntut orang untuk mengikuti pendapatnya. Pribadi egois juga pribadi yang mementingkan dirinya sendiri, ia tidak bisa mempertimbangkan kebutuhan orang, senantiasa mengedepankan kebutuhannya di atas kebutuhan orang lain.

Dapat disimpulkan bahwa pribadi yang egois adalah pribadi yang susah sekali untuk tulus, sebab ujung-ujungnya untuk kepentingannya sendiri.

Ada beberapa tips untuk menghilangkan sifat egois:

  1. Selalu berpikiran baik (husnudzhon) pada orang lain, jangan biarkan pikiran negatif masuk kepikiranmu.
  2. Jangan suka membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.
  3. Kembangkan empati kita pada orang lain.
  4. Kembangkan sikap melayani dan mendahulukan kepentingan orang lain.
  5. Perbanyaklah senyum, ingat selalu bahwa senyum itu ibadah.


Sekali lagi, semua kembali ke diri kita masing-masing. Dan jangan lupa berdo’a kepada Allah agar hati kita dapat di kontrol dan kita selalu diberikan hidayah-Nya. Karena hanya Allah yang dapat membolak-balikkan perasaan manusia.

Penutup
Egois adalah sifat yang tumbuh alami dari dalam diri manusia. Karena saking alaminya, sampai manusia tidak menyadari kehadiran sifat egois itu sendiri. Sampai sekarang pun belum ada obat yang bisa menghilangkan sifat egois dari dalam diri manusia.  Obat yang dicari adalah bukan obat berbentuk kapsul atau tablet, bukan pula berbentuk sirup yang diberikan oleh sang dokter.

Rasûlullâh SAW bersabda : "Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar...’, yang membuat para Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasûlullâh ?"Rasûlullâh berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu." (Riwayat Al Baihaqi)

Perang melawan hawan nafsu adalah perang yang sesungguhnya. Filsafat kuno juga menyebutkan, musuh terbesar adalah diri sendiri. Karena  dalam diri manusia terdapat sifat-sifat buruk. Amarah, dendam, iri, dan benci adalah contoh sifat manusia buruk. Begitu juga dengan egois. Untuk itu, melawan musuh yang ada dalam diri sendiri sangat sulit.

Maka sebenarnya, saat ini secara tidak langsung kita sedang berperang melawan diri sendiri. Berperang melawan sifat sifat buruk yang timbul secara alami di dalam diri kita. Mungkin hanya kebesaran iman kitalah yang mampu melawan itu semua. Hanya imanlah yang mampu menjadi obat penawarnya untuk melawan egois itu. Abu  Bakar Al-Warraq berkata :“Jika hawa nafsu mendominasi, maka hati akan menjadi kelam, Jika hati menjadi kelam, maka akan menyesakkan dada. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaknya menjadi rusak. Jika akhlaknya, maka masyarakat akan membencinya dan iapun membenci mereka”.

Dengan mengedepankan iman, tentu sifat-sifat egois yang terdapat dalam diri kita akan bisa diredam. Bantuan Allâh swt lah yang menjadi tumpuan terakhir agar kita terbebas dari sifat-sifat buruk itu, dan selalu dalam bimbingan-NYA. Semoga kita termasuk kedalam hamba-hamba yang mendapat perlindungan Allâh swt. Amîn

Sumber :
http://pesantren.uii.ac.id
https://hidayah18.wordpress.com